SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Blog ini, kami membuat id card murah dan gantungan kunci pake foto murah. silahkan order yach...

Minggu, 06 Maret 2011

PENGARUH EKONOMI TERHADAP KELANJUTAN PENDIDIKAN ANAK DI SEKOLAH DASAR

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara umum pendidikan merupakan salah satu dari berbagai investasi manusia yang sangat memberi andil dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan pendidikan maka seorang individu akan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sehingga menjadi manusia yang memiliki sumber daya yang berkualitas sesuai harapan. Dengan kualitas sumber daya manusia yang baik diharapkan manusia dapat membuka cakrawala berpikir, memperluas wawasan serta menguasai pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang nantinya dapat memberikan kontribusi yang besar dalam memajukan pembangunan nasional.
Dalam mengoptimalkan pendidikan anak ke jenjang lebih tinggi maka faktor ekonomi merupakan faktor yang sangat menentukan dalam kelanjutan pendidikan anak. Harus diakui bahwa banyak anak yang mengalami putus sekolah karena disebabkan oleg faktor ekonomi keluarga yang tidak mencukupi.
Di tengah krisis ekonomi yang seperti sekarang ini, beban orangtua menjadi sangat besar sehingga kebtuhan keluarga terkadang sulit terpenuhi. Di samping itu, beban yang banyak dirasakan oleh setiap orangtua adalah tingginya biaya pendidikan. Setiap tahun biaya pendidikan semakin meningkat, sehingga orangtua terutama orangtua yang berpenghasilan rendah/merasa terbebani. Kondisi seperti ini akan berpengaruh bagi kelangsungan masa depan anak, sementara di sisi lain, anak dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan.
Sementara itu, hal yang sangat memberatkan pada orangtua yang berpenghasilan rendah adalah tingginya biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh orangtua dalam hal ini merupakan kendala yang sangat besar. Oleh karena itu, kendala ekonomi keluarga ini akan menjadi pusat perhatian yang cukup serius baik oleh orangtua sendiri terutama oleh pemerintah yang selama ini telah menghapuskan sumbangan biaya pendidikan (SPP), namun pada sisi lain para murid yang kurang mampu biaya pendidikan sama dengan orangtua yang ekonominya cukup memadai. Biaya pendidikan yang dimaksudkan dikelolah oleh Komite Sekolah yang juga merupakan wakil dari orangtua, namun sesungguhnya tidak mencerminkan sebagai wakil orangtua terutama dirasakan oleh yang orangtuanya berpenghasilan rendah. Untuk memecahkan persoalan ini penulis akan membahas lebih dalam tentang ekonomi keluarga ini berpengaruh terhadap kelanjutan pendidikan anak di sekolah dasar, sementara pendidikan merupakan salah satu kebutuhan bagi setiap keluarga untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rumah tangga.










BAB II
PEMBAHASAN


A. Dampak yang Ditimbulkan oleh Rendahnya Ekonomi Keluarga.
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan mempengaruhi secara penuh pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Hal ini bukan saja karena pendidikan akan berpengaruh terhadap produktivitas, tetapi juga akan berpengaruh terhadap produktivitas masyarakat. Pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan di lingkungan kerja. Oleh karena itu, tidaklah heran apabila negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pendidikan sebagai hak asasi individu anak bangsa telah diakui dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 10 yang menyebutkan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Sedangkan ayat (3) menyatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dalam Undang-undang. Oleh sebab itu, seluruh komponen bangsa baik orangtua, masyarakat, maupun pemerintah bertanggungjawab mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan (UU RI No. 2 tahun 2003:37).
Jika anak hidup dalam keluarga miskin, kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi, akibatnya kesehatan anak terganggu sehingga belajar anak juga terganggu. Dampak lain yang dibutuhkan oleh rendahnya ekonomi keluarga adalah anak selalu dirundung kesedihan sehingga anak merasa minder dengan teman lain, hal ini akan ikut mengganggu aktivitas belajar anak (Slameto, 1991:66).
Kemapangan ekonomi ini sangat membantu siswa untuk melengkapi sarana dan prasarana belajarnya sehingga proses belajarnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Di samping itu, persoalan ekonomi juga dapat membantu sekolah untuk melengkapi sarana dan prasarana belajar mengajar di sekolah melalui BP-3 maupun SPP siswa.
Persoalan ekonomi merupakan salah satu persoalan sangat penting dalam proses pendidikan formal. Oleh karena itu, bilamana ekonomi seseorang mengalami kesuraman niscaya proses pendidikannya akan terhambat. Bahkan mungkin terjadi proses pendidikannya akan terhenti disebabkan ketidakmampuan ekonomi keluarga membiayai pendidikannya. Sementara biaya pendidikan dewasa ini, kian hari kian meningkat seiring dengan semakin meningkatnya berbagai kebutuhan, termasuk kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan, ditambah semakin meningkatnya biaya kebtuhan pokok sehari-hari. Di sisi lain, daya beli masyarakat menjadi tidak terjangkau atau semakin menurun.
Oleh karena itu tidak diragukan bahwa betatapun sulitnya perekonomian, masalah pendidikan bagi anak tetap mendapatkan perhatian dari masing-masing orangtua. Karena mayoritas orangtua murid termasuk orang-orang yang tahu dan mengerti tentang pendidikan, terutama pendidikan terhadap anak. Oleh karena itu mereka di samping bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, juga dituntut menyediakan biaya terhadap pendidikan anak-anaknya. Walaupun diantara mereka terdapat keluarga yang berekonomi pas-pasan (rendah). Dukungan orangtua terhadap anaknya untuk melanjutkan pendidikan seperti yang tampak pada sekolah dasar Perumnas Antang. Di sekolah dasar Perumnas Antang ternyata muridnya ada yang memiliki latar belakang keluarga yang berekonomi lemah, seperti orangtuanya bekerja buruh bangunan dan tukang becak. Pekerjaan tersebut tidak berarti tidak memperoleh penghasilan, namun hasil yang diperoleh tidak memenuhi keperluan hidup rumah tangga mereka, akibatnya pendidikan anak-anak mereka terbengkalai dan bahkan ada yang berhenti. Hal ini terjadi disebabkan oleh semakin tingginya biaya pendidikan dewasa ini, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga pada Peguruan Tinggi.
Pendapatan orangtua mereka memang tidak sama perkapitanya, akan tetapi rata-rata penghasilan orangtua mereka minimum Rp. 300.000,-/bulan, bahkan ada yang lebih rendah. Dengan demikian, rata-rata penghasilan orangtua mereka dalam setiap bulannya dapat dikatakan sebagai penghasilan yang sangat sederhana namun ada pula penghasilan orang tua yang sangat rendah sehingga mereka tidak mampu membiayai pendidikan anak-anaknya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa rendahnya ekonomi keluarga berdampak pada pemenuhan perelngkapan belajar siswa, misalnya pembelian buku paket, dan kelengkapan lainnya baik di sekolah maupu di lingkungan keluarga siswa. Di samping itu, rendahnya ekonomi keluarga dapat pula berdampak pada kelanjutan pendidikan anak bahkan ada yang sampai putus sekolah dan menjadi anak jalanan. Dedi Supriadi (2004:13) mengemukakan bahwa biaya pendidikan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan.
Data lapangan menunjukkan bahwa rata-rata tingkat putus sekolah dan tinggal kelas di tingkat sekolah dasar cukup tinggi terutama di sekolah dasar perumnas Antang yang pada umumnya berasal dari keluarga yang berpendapatan perkapitanya rendah. Di mana orang tuanya sebagai pekerja buruh harian, tukang becak dan sebaginya, yang berpenghasilan sangat rendah akhirnya kewalahan dalam pendanaan pendidikan anak-anak mereka. Pada tahun 2003 menunjukkan bahwa terdapat 5 % anak sekolah dasar di perumnas Antang yang putus sekolah disebabkan oleh rendahnya tingkat perekonomian orang tuanya. Hal ini dapat dilihat pada buku sejarah perkembangan sekolah dasar di Sulawesi Selatan (Diknas Kota Makassar, 2003/2004:22).
B. Peranan Ekonomi Kelaurga dalam Relevansinya dengan Pendidikan
Upaya perluasan dan persebaran kesempatan bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan dasar menempati prioritas tertinggi dalam perkembangan pendidikan nasional. Hal ini sangat beralasan sebab Undang-Undang Dasar 1945 dan Garis-Garis Besar Haluan Negara telah mengamanatkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan pengajaran, pemerintah berupaya untuk memperluas kesempatan pendidikan, baik pendidikan dasar, kejuruan, profesional, melalui jalur sekolah dan jalur luar sekolah (Nanang Fattah, 2002:89).
Dipandang dari segi ekonomi dan sosial, maka sistem pendidikan suatu negara adalah alat yang penting untuk melestarikan norma dan meningkatkan keterampilan masyarakat secara berkelanjutan dan mepersiapkan masyarakat tadi bagi kebutuhan pembagunan yang sedang berlangsung (Jusuf Enoch, 1991:167).
Dalam setiap langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif biaya pendidikan memiliki peranan yang sangat menentukan. Hampir tidak ada suatu upaya pendidikan yang dapat mengabaikan peranan biaya, sehingga dapat dikatakan bahwa tanpa biaya, proses pendidikan di sekolah tidak akan berjalan.
Dalam upaya mengatasi problem ekonomi, orang harus melakukan pendekatan yang realistis terhadap kehidupan manusia di muka bumi ini. Benar bahwa seseorang mempunyai berbagai kebutuhan ekonomi selama masa hidupnya. Maka tidak perlu membesar-besarkan bahwa hal itu sebagai problem besar dalam kehidupan. Seseorang tidak harus hidup senang sendirian. Oleh karena itu merupakan kesalahan besar baginya dan tidak sesuai kehidupan kita, nilai etik dan moral kita, kebudayaan dan masyarakat, serta landasan ekonomi kita. Namun problema kehidupan yang sulit untuk disembunyikan adalah pendanaan pendidikan. Kebutuhan hidup berupa barang-barang elektronik mungkin saja tertahan untuk dihadirkan di dalam rumah tangga, tetapi biaya pendidikan bagi anak merupakan problema yang sulit disembunyikan.
Lanjut tidaknya sang anak dalam menempuh pendidikan baik di sekolah dasar maupun pada jenjang tingkat yang lebih tinggi ditentukan oleh kemampuan ekonomi orangtua. Karena itu, dapat dipastikan bahwa kondisi ekonomi keluarga sangat terkait dan bahkan tidak terpisahkan bagi proses pendidikan anak. Slameto (1991:65) menuturkan bahwa “Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak”.
Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya makan, pakaian, perlindungan kesehatan, dan lain-lain juga membutuhkan fasilitas belajar berupa ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis-menulis, buku-buku dan lain-lain, fasilitas belajar itu hanya dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai ekonomi yang cukup, tetapi jika keadaan ekonomi keluarga memperihatinkan maka anak akan merasa tersisihkan atau terisolasi oleh teman-temamnya yang berekonomi cukup atau kaya, sehingga belajar anak akan terganggu. Bahkan mungkin karena kondisi ekonomi orangtuanya berada di bawah standar rata-rata, maka anakpun tidak akan memperhatikan kondisi belajarnya sebab ia akan ikut bekerja dan mencari nafkah sebagai pembantu orangtuanya walaupun sebenarnya anak belum saatnya untuk bekerja hal ini akan juga menggangu belajar anak.
Namun tidak dapat disangkal pula bahwa kemungkinan adanya anak yang serba kekurangan dan selalu menderita akibat ekonomi keluarga yang lemah, tetapi justru keadaan yang begitu mereka menjadikannya cambuk untuk belajar lebih giat dan akhirnya sukses besar. Sebaliknya, terkadang pula keluarga yang kaya raya orangtua mempunyai kecenderungan untuk memanjakan anak. Anak hanya bersenang-senang dan berfoyah-foyah akibatnya anak kurang dapat memusatkan perhatiannya kepada belajar. Hal tersebut dapat pula menggangu belajar anak bahkan dapat pula menyebabkan anak gagal dalam pendidikan disebabkan kurang perhatiannya orangtua terhadap pendidikan anak-anaknya.
Oleh karena itu, relevansi antara pendidikan dan ekonomi keluarga sangat erat dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Cita-cita masa depan seseorang tidak akan tercapai tanpa pendidikan, sedangkan pendidikan tidak dapat berjalan tanpa dana, sedang dana sangat sulit tercapai tanpa pendidikan. Dengan demikian, antara pendidikan dan kondisi ekonomi keluarga merupaka suatu lingkaran yang tak berujung serta tak terpisahkan dan saling berkait satu sama lain.
C. Pengaruh Faktor Ekonomi Keluarga Terhadap Pendidikan Anak Sekolah Dasar
Dalam rangka mencapai prestasi belajar anak khususnya di sekolah dasr sudah barang tentu harus ditunjang oleh berbagai sarana dan media belajar terutama dalam rumah tangga. Namun demikian, pemenuhan kebutuhan belajar anak harus ditunjang oleh kecukupan dan kemantapan ekonomi keluarga. Ekonomi keluarga sangat termasuk salah satu faktor keberhasilan dan kegagalan pendidikan bagi anak.
Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (1991:83) bahwa “Faktor biaya merupakan faktor faktor yang sangat penting karena belajar dan kelangsungannya sangat memerlukan biaya”. Misalnya untuk membeli alat-alat, uang sekolah dan biaya lainnya. Maka keluarga yang miskin akan merasa berat untuk mengeluarkan biaya yang bermacam-macam itu, karena keuangan dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan anak sehari-hari. Lebih-lebih keluarga untuk dengan banyak anak, maka hal ini akan merasa lebih sulit lagi.
Keluarga yang miskin juga tidak dapat menyediakan tempat untuk belajar yang memadai, di mana tempat belajar itu merupakan salah satu sarana terlaksananya belajar secara efisien dan efektif.
Pembentukan pribadi dan sebagainya. Upaya apapun yang dilakukan oleh para pengelola sekolah dalam rangka menciptakan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien jika tidak ditunjang oleh ekonomi keluarga pihak siswa (orangtua siswa), niscaya upaya itu akan sia-sia. Misalnya, lengkapnya media belajar dan sarana mengajar yang dimiliki oleh sebuah sekolah, akan tetapi sarana belajar siswa di rumah kurang memadai, maka mungkin hanya proses mengajar saja yang efektif dan efisien, tetapi proses belajar terutama belajar mandiri di rumah tidak seperti apa yang diharapkan. Paradigma ini menunjukkan bahwa masalah ekonomi dapat mempengaruhi proses belajar mengajar siswa baik di sekolah maupun di rumah.
D. Upaya yang Dilakukan untuk Meningkatkan Ekonomi Keluarga.
Masalah ekonomi merupakan suatu persoalan yang sangat kompleks dan senantiasa menjadi perbincangan di setiap kalangan masyarakat maupun pemerintah. Di satu pihak, ia merupakan suatu upaya yang berhasrat untuk secara langsung meningtkatkan kemakmuran ekonomi rakyat, tapi di pihak lain ia juga memiliki tanggungjawab untuk membangun sistem perekonomian sebagai bagian integral dan upaya peningkatan kemakmuran ekonomi rakyat tersebut. Ekonomi keluarga merupakan salah satu faktor penentu berhasil tidaknya studi seseorang anak, karena persediaan sarana dan prasarana belajar dapat terpenuhi apabila tingkat perekonomian keluarga cukup memadai. Semakin tinggi taraf ekonomi keluarga seorang anak akan semakin mudah baginya melengkapi segala kebutuhan belajarnya baik di rumah maupun di sekolah, terutama biaya pendidikan karena semakin tinggi pendidikan semakin yang ditempuh seseorang akan semain tinggi pula biaya yang dibutuhkan.
Berbagai cara yang ditempuh dalam rangka meningkatkan perekonomian keluarga. Antara lain adalah berusaha atau bekerja baik pekerjaannya itu dengan cara berniaga, pegawai swasta ataupun pegawai negeri. Namun yang terpenting adalah usaha yang dilakukan oleh setiap keluarga adalah penghasilan yang mereka peroleh dalam memenuhi kebutuhan pokok dan keperluan pembiayaan pendidikan anak mereka adalah penghasilan yang halal.
Pendanaan pendidikan, walaupun mendapat bantuan dari pemerintah tetapi hal itu jauh dari yang cukup sehingga untuk menjadikan anak sebagai manusia yang berkualitas maka pendidikannya harus dijamin dan didanai. Dalam setiap upaya pencapaian tujuan pendidikan baik tujuann yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif, baik secara kolektif maupun individual biaya pendidikan memiliki peranan yang sangat menentukan. Oleh karena itu, pembiayaan pendidikan ini di samping sebagian merupakan tanggungjawab negara, juga menjadi tanggugjawab pihak keluarga. Jadi, peningkatan taraf ekonomi keluarga dengan sendirinya harus diupayakan atau ditingkatkan sehingga keluarga mampu membiayai pendidikan anak (Anwar. M.I., 1991:24).
Usaha-usaha yang dilakukan dalam kerangka meningkatkan taraf perekonomian keluarga antara lain bekerja mencari nafkah, baik pekerjaan itu sebagai pekerja swasta ataupun negeri, berniaga dan sebagainya yang penting pekerjaan atau usaha yang dilakukan adalah halal

DAFTAR PUSTAKA

A.I. Anwar. 1991. Biaya Pendidikan dan Metode Penetapan Biaya Pendidikan. Mimbar Pendidikan, No. 1 Tahun X, 1991. 28-33.
Abu Ahmad, Widodo Supriyono. 1991. Psikologi Pendidikan.
Enoch, Jusuf. 1992. Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan. Edisi I, Cet. I. Bumi Aksara: Jakarta.
Fattah. Nanang. 2002. Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. Rosdakarya: Jakarta.
Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999-2004. Sinar Grafika: Jakarta.
Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta: Jakarta.
Supriadi. Dedi. 2004. Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. Rosdakarya: Bandung.
UU. RI. No. Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) Sinar Grafika: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan anda berkomentar, tapi yang sopan dan sifatnya membangun yaa...??